BORING GAME "PROLOGUE + CHAPTER 1"
Author: BlazingPanda
Genre: Romance, Drama, Action, Ecchi, Fantasy, Super Power,
Pyschological, Tragedy, School Life
Prologue
13 Agustus, 03.25 pm
Suasana disekitar cukup gelap dan tanpa sadar
aku sudah mengikuti Alice sampai ke basement. Hari ini dia bertingkah tidak
biasa dan berkata akan pulang sendiri, sehingga diam-diam aku mengikutinya.
“Jadi akhirnya kau datang juga, putri Alice.”
Suara tersebut memecah keheningan yang ada di basement.
Suaranya cukup jelas terdengar meskipun dengan
jarak yang cukup jauh. Seseorang keluar dari balik mobil. Dia tersenyum melihat
Alice.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Eri, jadi aku
mohon padamu lepaskan dia.” Alice terlihat seperti sedang memohon.
"Eri?" gumamku dalam hati. Tiba-tiba
aku melihat seseorang selain mereka berdua disana, dan orang itu adalah Eri.
Dia digantung dan ditutupi mulutnya dengan sapu tangan.
Aku menajamkan penglihatanku agar dapat
melihat siapa sosok yang berdiri bersama Alice dan Eri.
“Maafkan aku, tapi jika aku tidak berbuat
sesuatu aku tidak akan bisa menantangmu bertarung.” Dia menarik dual sword dari
punggungnya.
“Itu... Ted? bukan... penampilan dan model
rambut itu sedikit berbeda. Pedang?” dengan reflek aku melompat keluar dari
balik mobil. Alice dan Ted melihatku kaget. Aku menatap Ted tajam seakan
mencoba mengintimidasinya.
“Apa yang kau lakukan disini, Ren?” Alice
memasang wajah bertanya.
Aku berjalan dan berdiri tepat di depan Alice.
“Bisa jelaskan apa yang akan kau lakukan
disini, bukan itu... lebih tepatnya apa yang akan kau lakukan pada Alice?”
“Oh... bukankah ini Ren, sang kakak yang
protektif terhadap adik kembarnya. Ada urusan apa kau disini Ren ?” Dia
melihatku sambil tersenyum lebar. Aku diam berusaha menahan kesalku melihat
senyumannya.
“Seperti biasa kau sangat dingin. Baiklah akan
kujawab pertanyaanmu. Aku akan membunuh adik kesayanganmu itu tapi aku akan
membunuhmu terlebih dahulu.” Tiba-tiba dia melesat ke arahku dan menebaskan
dual swordnya ke arahku.
Chapter 1
13 Agustus, 07.00 am
Lagi-lagi aku harus merasakan tatapan-tatapan
mereka. Tidak di sekolah atau di rumah, dimana saja ada yang mengenalku, mereka
pasti memberikan tatapan itu. Meskipun aku sudah terbiasa dengan ini.
“Seperti biasa, mereka selalu menatapku aneh,”
gumamku dalam hati.
Aku adalah Ren. Aku adalah anak dari mantan
ketua yakuza dan seorang ilmuwan jenius. Meskipun ayahku sudah berhenti menjadi
yakuza, dia masih tetap ditakuti bahkan oleh ketua yakuza sekarang. Di
sebelahku berjalan adikku yang super sempurna, Alice. Dia sangat ahli dalam
olahraga, pintar dalam belajar dan juga cantik. Meskipun berasal dari ayah yang
sama, teman-temanku memperlakukanku berbeda dari adikku. Yah, meskipun
sebenarnya aku tidak peduli. Sekarang kami sedang berjalan di halaman Akademi Hiei.
Sekolah elit yang sangat terkenal di kotaku. Melihat kondisi sekolah ini, aku
yakin tidak akan ada yang percaya bahwa ini adalah sekolah. Dilihat dari luar,
sekolah ini lebih mirip istana atau gedung-gedung kerajaan.
“Alice,” Eri, teman sekelas kami tiba-tiba
mendatangi Alice.
“Eri, ada apa?” Alice melambaikan tangannya ke
Eri.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” Eri menarik
tangan Alice.
Aku tersenyum melihat Alice ketika dia
berbalik dan memasang wajah bertanya.
Mereka berdua pun berjalan meninggalkan aku
sendiri yang tanpa kusadari sudah berada di lobi, yang posisinya tepat di depan
pintu Akademi Hiei lantai 1.
“Baiklah, aku juga-,”
Aku berbalik tiba-tiba karena merasa seperti
ada yang sedang mengawasiku.
"Mungkin perasaanku saja," gumamku.
Aku langsung berjalan ke kelasku.
13 Agustus, 03.26 pm
“Sepertinya tadi pagi aku ataupun adikku tidak
ada mengusikmu.” Aku melangkah mundur menghindari tebasan pedangnya. “Dan juga
bukankah kau yang dari tadi pagi mengawasi aku dan adikku. Berarti bisa
disimpulkan kaulah yang mengusik kami.”
“Sebaiknya kau lari dari sini, tidak, lari
dari kota ini. Karena siapapun yang sudah mengetahui kemampuan ku tidak akan
kubiarkan hidup.” Ted mulai mengayunkan pedangnya dengan cepat. Dia mengabaikan
apa yang kukatakan padanya barusan.
“Kakak... ,” Alice mendekatiku tapi aku
memberinya aba-aba untuk berhenti.
“Apa yang kau bicarakan?” aku menghindari
tebasannya lalu menendang perutnya. Ted terlempar beberapa meter ke belakang
dan terbentur tembok.
“Sialan bagaimana bisa tendanganmu sesakit
ini.” Dia membersih darah yang mengalir di bibirnya. “Kalau aku tidak bisa
melukaimu, aku akan melukai adik tercintamu terlebih dahulu.” Dia melempar
pedang di tangan kanannya ke Alice. Pedang itu melesat dengan cepat dan
menggores sedikit pipi Alice.
"Sial, Aku mele- ," omongannya
terhenti lalu disusul jeritannya. “ARGHHHHH .”
“Apa yang sudah kau lakukan ke Alice? kau tau,
bahkan orangtuaku tidak pernah kuijinkan melukainya. Dan sekarang kau melukai
pipinya,” teriakku marah. Aku mematahkan lengan kanannya dan menggenggamnya
hingga remuk. Alice hanya diam gemetaran.
“Siapa kau? Apa kau juga “Chosen” seperti aku
dan adik mu?” Ted mulai berbicara lagi sambil menahan sakit di lengan kanannya.
Aku memijak perutnya dan menekannya ke tembok. Dia semakin menjerit kesakitan.
“Cuma kematian yang diijinkan untuk mereka
yang berani melukai Alice.” Aku menendang kepalanya. Seketika kepalanya tidak
dapat berdiri kembali karena tulang leher dan tengkoraknya sudah hancur terkena
tendanganku.
Aku terduduk lalu melihat Ted yang sudah
terbaring tak bernyawa di depanku. Alice langsung berlari dan memelukku dari
belakang.
“Maafkan aku, kak. Lagi-lagi aku membuatmu
menderita,” ucap Alice lirih sambil menangis.
“Kau tidak salah apa-apa, mereka lah yang
salah karena sudah melukaimu.” Aku menghapus darah di pipi alice dan juga
menghapus air matanya.
Eri yang daritadi melihat semuanya, sekarang
gemetaran ketakutan.
“Tidak apa-apa, aku sama seperti mu.” Aku
berjalan kearahnya. Tiba-tiba saja dia pingsan.
“Itulah reaksi yang kutunggu.” Aku berjalan
kembali ke arah Alice. Sejauh ini tidak pernah ada saksi mata yang bisa sadar
saat aku mendekati mereka setelah melakukan hal seperti tadi.
“Mari kita pulang Alice, Tojou pasti sudah
menunggu kita di depan gerbang.”
“Bagaimana dengan Eri?” Alice melihatku
bingung.
“Aku akan menyerahkannya pada Tojou, Ayo!” Aku
mengulurkan tanganku.
0____0
BalasHapusNice seeing u here,, sorry if my blog still too abstract ...
Hapus3 hrs sitting in front of PC and still getting nowhere // lagi proses pembuatan menu ... :3