BORING GAME "CHAPTER 2"
Author: BlazingPanda
Genre: Romance, Drama, Action, Ecchi, Fantasy, Super Power, Pyschological, Tragedy, School Life
Chapter 2
14 Agustus, 02.00 am
“Kira-kira apa yang tadi dikatakan Ted ya? aku penasaran,” ucapku sambil melihat layar laptop.
Memang sudah kebiasaanku seperti ini, ingatanku saat marah selalu samar-samar. Tidak beberapa lama aku merasakan ada sesuatu yang aneh dari tempat tidurku. Aku berbalik dan melihat tangan Alice yang bercahaya. Perlu diketahui, Alice memiliki kamar sendiri yang letaknya cukup jauh dari kamarku, tapi entah kenapa dia selalu ingin tidur di kamarku. Jadi, setiap malam dia selalu menyelinap ke kamarku. Yah, itu tidak terlalu masalah karena waktu tidur kami berbeda. Aku tidur sekitar jam 8 dan selalu terbangun tengah malam, jadi itu berarti kami tidak tidur bersama sampai pagi.
Aku bingung melihat cahaya itu, lalu berjalan mendekatinya. Ternyata ada sebuah kartu di tangan Alice yang bersinar sangat terang. Aku mengambilnya dan tanpa sadar aku sudah tidak berada di kamarku lagi.
Alternate World
Aku melihat sekelilingku yang gelap gulita. “Apa yang sedang terjadi disini?” gumamku dalam hati.
“Selamat datang para Chosen. Aku adalah Tuhan. Terserah kalian mau memanggilku apa.” suara seseorang menggema dan tiba-tiba sekitar menjadi terang. Ternyata bukan cuma aku saja yang ada di sini, banyak orang di sekitar bahkan ada adikku juga di sini.
“Alice,” aku menoleh ke adikku.
“Ren... ,” dia berlari menujuku.
Di depan kerumunan kami berdiri seseorang yang mengenakan kostum katak yang lidahnya menjulur keluar. Katak tersebut melihat ke arahku dan kemudian melihat ke arah kerumunan kembali. Aku merasakan aura yang tidak enak ketika dia melihatku.
“Setidaknya kalian sudah tahu alasan kenapa kalian dikumpulkan di sini. Itu karena kalian adalah Chosen, orang yang terpilih dan diberikan kekuatan super untuk memainkan game yang bernama “Boring Game”. Meskipun ada satu orang yang bukan Chosen berada disini, tapi kita kesampingkan dulu hal tersebut. Disini aku akan menjelaskan rule permainan ini. Pertama, masing-masing kalian akan mendapat sebuah kartu dan ada Guardian Chara di kartu tersebut. Kartu tersebut berguna untuk menyimpan daftar kemampuan kalian dan menunjukkan Soul Point kalian. Seperti namanya, Soul Point adalah harga dari nyawa kalian, masing-masing kalian memiliki SP yang berbeda, dan juga SP tersebut dapat naik atau turun dan akan mempengaruhi kemampuan yang kalian miliki. Di kartu itu juga menunjukkan daftar kategori keinginan apa saja yang dapat kalian menangkan di game ini. Dengan menukar SP kalian, kalian dapat mengabulkan keinginan kalian.”
Kerumunan mulai bereaksi dan mulai berbisik atau berbicara sendiri. Ada yang terlihat ketakutan, ada yang terlihat tenang, dan juga ada yang tersenyum. Sedangkan Alice menggenggam erat tanganku. Aku menatap dia tajam, karena aku merasa dari tadi dia selalu menatapku dari dalam kostum menjijikkan itu.
“Apa yang terjadi jika SP kalian habis? kalian pasti berfikir seperti itu. Jawabannya adalah tentu saja kalian akan mati. Tapi tenang saja seperti yang dikatakan tadi, SP kalian dapat ditambah. Peraturan kedua, Tidak ada larangan untuk membunuh satu sama lain. Dengan kata lain, kalian bebas memakai kekuatan kalian untuk apa saja. Kalian dapat membunuh mereka, para Chosen, atau manusia biasa. Akan tetapi jika kalian membunuh Chosen kalian dapat memperoleh SP Chosen tersebut dan menambahkannya ke SP kalian. Ya, dengan kata lain saling membunuh akan meningkatkan kemungkinan kalian untuk mengabulkan keinginan kali-,“ omongannya terhenti karena dia menghindari tinjuku.
“Kau terlalu meremehkan Tuhan, bocah. Kau bahkan bukan seorang Chosen dan kau berani menyerang ku saat sedang menjelaskan peraturan game ini kepada para Chosen.”
“Ren... ,” Alice mulai gemetaran.
“Aku tidak peduli dengan game ini atau dengan Chosen atau apalah itu. Yang membuatku muak, kau melibatkan Alice dalam permainan menjijikkan ini. Sekalipun kau tuhan aku tidak akan memaafkan-,“ omonganku terhenti karena tiba-tiba dia menghilang dari depanku.
Aku berbalik dan menemukannya di belakangku. Aku bersiap memukulnya akan tetapi dia terlalu cepat. Dia memukul leher ku. “Sial-,“ gumamku. Aku mulai kehilangan kesadaran.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuh mu, lagipula akulah yang membawamu kesini. Untuk saat ini aku hanya membuatmu setengah sadar," bisiknya padaku. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang dibisikkannya padaku.
“Baiklah sampai dimana tadi, oh ya. Saling membunuh akan meningkatkan kemungkinan kalian untuk mengabulkan keinginan kalian, dan jika kalian adalah Chosen terakhir yang bertahan hidup, kalian dapat memilih keinginan paling mahal untuk dikabulkan meskipun SP kalian tidak mencukupi. Dan juga kalian tidak dapat mengetahui SP lawan kecuali kalian melihat kartunya atau dia mengatakannya padamu, jadi berhati-hatilah dalam berburu. Mungkin peraturan nya hanya dua itu saja. Baiklah permainan dimulai!”
“Oh iya sebelum itu aku akan memberi kalian kemudahan, orang ini juga akan mengikuti permainan ini meskipun dia bukan Chosen. SP dia adalah 80.000.” Dia mengangkatku yang setengah sadar.
“80.000?.” ”Padahal dia bukan seorang Chosen.” ”SP nya setara dengan harga untuk mengabulkan keinginan yang paling mahal.”
"Apa yang dikatakannya tadi, ada apa dengan kerumunan ini?" gumamku berusaha memperoleh kesadaranku lagi.
“Dan juga perlu diketahui dia berhasil membunuh seorang Chosen sendirian tanpa menggunakan senjata dan tanpa terluka."
Kerumunan tiba-tiba berhenti. Suasana nya tiba-tiba menjadi hening.
"Yang terakhir, gadis itu adalah adik bocah ini, SP dia adalah 160.000. Membunuh mereka berdua sudah cukup untuk mengabulkan keinginan-keinginan yang bahkan masuk kategori mustahil. Jadi kalian tahu harus berburu siapa bukan ? Baiklah cukup sekian penjelasan dari ku. Selamat menikmati permainan ini sampai akhir,” teriaknya memecah keheningan.
“Jangan lupa beritahu dia untuk bertahan hidup karena mulai sekarang dia akan terus diburu. Oh iya bukan dia yang diburu, tapi dirimu. So keep alive,” dia melempar tubuhku ke Alice. Ketika Alice menangkap tubuhku seketika itu juga aku mulai kehilangan kesadaran secara keseluruhan.
Ren’s Room
Aku membuka mata dan sadar ternyata aku sudah berbaring dikasur di kamarku.
“Apa yang terjadi tadi? semuanya seperti ilusi. dan katak sialan itu.” Aku meletakkan tanganku di kepala dan memandang langit-langit kamarku.
“Maafkan aku, kak. Maafkan aku karena sudah merahasiakan hal ini.” Alice duduk disebelah ku sambil mulai menangis. Sepertinya dari tadi dia sudah duduk disitu menungguku bangun, terlihat matanya yang memerah karena menangis.
“Sudah, tidak perlu menangis, lagipula ini bukan salahmu.” Aku mengelus-elus kepalanya. Dia mulai berhenti menangis.
“Tapi... tapi... gara-gara aku kakak terlibat masalah lagi.” Alice mulai menangis kembali.
“Sudahlah. Aku tidak apa-apa kok. Jangan menangis lagi. Apapun yang terjadi aku akan melindungimu dengan atau tanpa kau minta.” Aku memeluknya dan meletakkan kepalanya di dadaku.
Leave a Comment